Blogroll


Komentar Terbaru


Arsip


My World


@octanasquare


Visitors


Time is Life


new

    My Great Web page

Pengunjung

    66.267

Dimanakah Jendela Dunia berada?

Ditulis pada 29 September 2011 Oleh anazahidah-fkm09 | Kategori : Opini

 

Tak dapat dipungkiri akibat globalisasi kini pendidikan menjadi ajang matrealisasi. Tahun ajaran baru seakan momok yang menakutkan bagi orang tua siswa untuk menyiapkan anak-anak memasuki jenjang pendidikan baru, mulai dari biaya seragam, uang pembangunan sekolah, uang pembayaran SPP hingga buku wajib dan buku penunjang dari sekolah yang harus dimiliki siswa.  Tentu kita sangat familiar dengan pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia tanpa batas. Sumber dari segala informasi yang membentuk kepemahaman yang menghantarkan pada penguasaan bidang ilmu yang dipelajari. Namun, apa yang terjadi ketika jendela dunia semakin menipis akibat rendahnya kemampuan warga untuk menjangkaunya. Begitu miris ketika buku telah menjadi media terakhir warga untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya, namun harga menjadi benteng penghambat warga untuk mendapatkannya. Menurut laporan Human Development Report  tahun 2008/2009 yang dikeluarkan UNDP, menyatakan minat membaca masyarakat di Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Kondisi ini sejajar dengan Bharain, Malta dan Suriname. Sepertinya data tersebut akan semakin memburuk ketika data hanya menjadi sebuah pernyataan belaka yang tidak mengundang aksi real dari pemerintah untuk memeranginya. Bahkan berbagai upaya secara independen dilakukan oleh sekolah untuk mencari solusi atas mahalnya biaya buku. Salah satunya adalah mewajibkan siswa untuk mencari sumber informasi melalui cyber world dengan dalih lebih mudah untuk mencari informasi seluas-luasnya dan murah tanpa harus membeli buku paket yang dibeli per satuan buku. Benarkah hal tersebut solusi terbaik, ketika siswa dituntut untuk menjelajahi dunia maya mencari informasi yang berkaitan dengan pelajaran sekolah. Perlu kita ingat kemudahan akses informasi dunia maya bagaikan pedang bermata dua, selain memberi manfaat namun efek negatif akibat penggunaannya pun tidak sedikit. Mulai dari peningkatan penggunaan game online, human trafficking akibat jaringan sosial hingga pornografi. Oleh karena itu, hal yang instant bukanlah sebuah alternatif pilihan yang terbaik jika kita paham akan kehati-hatian dalam mencari solusi.

Jendela dunia yang sering didengungkan rupanya masih belum menjadi sebuah kebutuhan pokok bangsa Indonesia. Berbagai dampak akan timbul seiring dengan meningkatnya harga buku di pasaran. Tidak lain upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah menurunkan harga buku yang menjadi media terakhir warga Indonesia untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya tanpa memberi dampak negatif lainnya yang menyertai.


 

Tulisan dimuat di Media Indonesia edisi Agustus 2011 

Octaviana Wulandari

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
IKM A 2009
Surabaya 

 


- 3 Komentar -

1. thiara

pada : 21 May 2012
keren naa :D

2. admin

pada : 22 May 2012
:D makasih saudariku, ayoo keep blogging menulis seruuu ...

3. ukogJhdMByiAp

pada : 21 July 2012
kabar mb nit.. hmm.. lumayan lah.. bnayak diberi Allah kesempatan u/ menggugurkan dosa2 kecil 2 pekan belakangan met puasa dinda.. :) baik2 disana yah, ojo lali party jus semangkanya

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :